Kompleks eko-wisata Trang An – “Ha Long Bay On The Land”

Posted by & filed under Vietnam Travel Guide.

Kompleks eko-wisata Trang An di propinsi Ninh Binh – terletak kira-kira 96 kilometer dari ibukota Hanoi (sekitar 2,5 jam dengan mobil), bisa menjadi pilihan wisatamu saat berkunjung ke Vietnam Utara. Meski lokasinya cukup jauh dan pastinya akan menghabiskan waktu seharian penuh untuk berkeliling di sekitar area ini, tapi sangat recommendedlah, apalagi buat kamu pecinta alam dan tantangan, karena panorama alamnya sungguh sangat cantik. Tempat ini dikenal dengan julukan “a Ha Long on Land of Ninh Binh” (Ha Long merupakan salah satu kota terindah di Vietnam selatan dengan panorama pegunungan karstnya yang menyebar di Teluk Ha Long – Ha Long Bay).

Zona ekologi Trang An, sebuah area yang sangat terkenal dengan boat cave tournya dan telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu World Heritage Site. Satu situs  pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Ini merupakan satu bagian dalam kompleks pusaka dunia Trang An yang dimisalkan sebagai satu museum geologi di udara luar. Saban tahun, Trang An menyambut puluhan ribu wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengunjungi  sistim gua yang beranekaragam dan unik di sini.

Trang An Complex merupakan suatu area di mana banyak terdapat bukit-bukit kapur menjulang tinggi serta gua-gua bawah tanah yang hanya bisa diakses melalui sungai.Meskipun bukit-bukit di Trang An terhubung dengan lahan-lahan subur yang ditumbuhi oleh lebatnya pepohonan, cara terbaik yang dijual oleh pihak pariwisata setempat adalah dengan menggunakan perahu kayuh. Ada ratusan perahu yang bersender di sekeliling pulau buatan di tengah area sungai yang dijadikan dermaga untuk boat tour di Trang An.Para wisatawan berangsur-angsur menuju ke gua Toi. Di  depan gua ini, perahu-perahu yang sambung-menyambung antre di depan pintu gua, setiap perahu jaraknya  tiga meter untuk menjamin keselamatan. Jaringan gua di kompleks eko-wisata Trang An kaya dalam hal bentuk dan jenis. Setiap gua mengandung nuansa-nuansa khusus karena batu kapur yang larut dan mengendap, sehingga menciptakan  bermacam-macam stalaktik, stalakmit dan tembok batu pada ribuan tahun lalu.

Perahunya terbuat dari besi ringan serta lapisan bambu untuk alas duduk dan pijakan kaki di bawah. Kapasitas maksimal penumpang 4 orang, ditambah 1 orang pengayuh yang duduk di paling belakang. Perjalanan menyusuri gua-gua yang berada disepanjang aliran sungai Ngo Dong dilakukan menggunakan sebuah boat, akan makan waktu sekitar 2 jam (pulang pergi) dan akan total melewati sekitar 8 (delapan) buah gua di pegunungan karst-nya (diantaranya Sang Cave, Toi Cave, Ba Giot Cave, Nau Ruou, dan sebagainya), dari sekitar puluhan gua lainnya.

Karena perahunya yang tanpa mesin dan harus didayung, maka sepanjang perjalanan terasa sangat sepi, hanya ditemani desiran arus sungai dan sesekali bunyi burung-burung dan binatang disepanjang aliran sungai. Bikin pikiran rileks dan hati tenang tentram, apalagi sembari menikmati keindahan alamnya, karena sepanjang jalan, terpampang pegunungan karst dengan lekukan-lekukan vertikalnya sangat unik memang, belum pernah lihat panorama seperti ini di Indonesia. Beberapa warga lokal terlihat hilir mudik menyeberangi sungai ke berbagai arah.

Area sungai yang tadinya lebar mulai terlihat menyempit. Terlihat tidak ada jalan lagi di depan selain bukit batu yang menjulang tinggi. Namun perahu tetap melaju ke arah batu tersebut hingga akhirnya kita bisa melihat celah rendah antara permukaan sungai dengan bebatuan yang menggantung. Kemudian kita akan memasuki gua. Sang pengayuh perahu dengan sigap melakukan manuver belok kiri kanan tajam di dalam gua sungai bawah tanah yang sempit dan gelap tersebut.Bebatuan menonjol di kiri kanan perahu bahkan di atas kepala kami. Namun para pengayuh perahu sudah hafal banget jalur mana yang harus diambil agar para penumpangnya tidak ada yang kejedot batu. (Walaupun tetap saja sih beberapa kali dia harus meneriakkan “Awas kepala!” agar para penumpang yang berbadan tinggi agak menunduk posisinya). Guanya tidak semuanya gelap gulita. Untuk gua yang panjang ada lampu-lampu kecil yang digantung di atasnya.

Perahu semakin jauh ke dalam gua, wisatawan semakin merasakan gua itu seperti tidak ada akhirnya dan tidak ada jalan ke luar,  tetapi kemudian pintu gua  tiba-tiba muncul. Melewati setiap gua,  perahu membawa wisatawan ke  lembah air  yang luas dan dikelilingi oleh  dinding gunung dan pepohonan. Lembah-lembah air  terletak di tengah-tengah  gua-gua  di kompleks eko-wisata Trang An dan merupakan aksentuasi  pemandangan alam  di sini. Pemandangan alam di sini  indah sekaligus luar biasa megahnya.

Keindahan alamnya tidak hanya begitu, sungai memiliki warna air yang sangat jernih, bening dan bersih. Kalau bukan musim hujan, kita bisa melihat dengan jelas hingga ke dasar sungainya yang ternyata dipenuhi dengan aneka tanaman, dan baru sekali ini melihat tanaman aneh-aneh gini, warnanya hijau-hijau memanjang sungai.

Sampai sekarang, di kompleks eko-wisata  Trang An, ada 48 gua  bersungai (artinya  ada sungai  yang mengalir  di dalam gua) yang bercampur dengan 31 lembah air yang kecil yang telah melakukan survey.  Diantaranya, ada gua-gua yang panjangnya  puluhan kilometer seperti gua Dia Linh, gua Toi, gua Sang, gua Ba Giot, gua Sinh, gua Son Duong dan lain-lain.Tidak hanya sebagai pemandangan alam  yang luar biasa indahnya, kompleks ekologi gua Trang An juga dianggap sebagai “museum  geologi di udara luar”. Topografi dan sedimen di gua di sini  mempunyai makna bagi penelitian iklim dan evolusi topografi, mencatat bekas-bekas melalui berbagai periode kenaikan air laut dan perubahan iklim di bumi. Di dalam gua-gua di kompleks ekologi Trang An, para peniliti juga menemukan adanya bekas-bekas dari  manusia purba seperti  gua Trong punya bekas dari manusia prasejarah pada 3 000-30 000 tahun lalu, gua Boi punya bekas manusia prasejarah pada kira-kira 10 000 tahun lalu.

Yang khusus lagi, Trang An adalah tempat dalam film Kong: Skull Island yang rilis awal tahun 2017 oleh Hollywood. Sejak film Kong jadi banyak wisatawan yang mau mampir ke tempat-tempat syuting tersebut: desa suku dan banyak rumah-rumah bambu yang digambarkan sebagai perkampungan tribal dalam film ini. Di pinggir sungai ada potongan sayap pesawat yang diceritakan kandas puluhan tahun sebelumnya.Dan yang paling keren, ada river boat yang dalam film digunakan untuk kabur dari Skull Island.

Hanya sekitar tiga jam  berwisata dan menikmati pemandangan alam Trang An yang megah, perahu membawa wisatawan kembali ke dermaga permulaan, mengakhiri perjalanan  dengan  pengalaman-pengalaman yang interesan. Jika siapa saja yang telah datang ke daerah ini, pasti akan ingin  datang kembali sekali  lagi untuk bisa  menikmati saat-saat yang santai, melepaskan jiwa  pada alam.

Comments are closed.